Sekolah Alternatif, Pilihan Tanpa Batas

Jakarta, Kompas

Penampilan Andre (24) tidak umum untuk seorang guru. Siang itu ia mengenakan baju kaus hitam bertuliskan ”Tahanan Cipinang 677”, celana panjang komprang biru muda, dan bersandal jepit. Sepasang anting besar kuning keemasan menghiasi telinganya. Penampilan Andre memang agak aneh untuk seorang guru, apalagi untuk ukuran sebuah sekolah seperti SD Pangudi Luhur yang mayoritas muridnya berasal dari kalangan menengah atas. Andre memang bukan guru biasa. Ia hanya lulusan SMP. Ia besar di jalanan. Sesekali ia masih turun ke jalan untuk mengamen. Akan tetapi, Andre kini dipercaya untuk menjadi guru ekstrakurikuler musik di SD Pangudi Luhur, Jakarta Selatan, meski tidak secarik kertas pun bisa ia sodorkan untuk menunjukkan kompetensinya dalam mengajar musik.

Siang itu Andre mengajarkan teori musik. Dengan luwes ia menghentakkan kaki dan menepukkan tangan dalam berbagai ritme. Ia langsung meminta murid-murid yang diajarnya langsung menuliskan nilai nada dalam not balok. Siang itu merupakan pertemuan kedua. Andre, yang mengajar bersama Sandy (19), menutup pertemuan itu dengan memberikan pekerjaan rumah kepada anak-anak mengarang sendiri komposisi ketukan dalam not balok. Dalam pertemuan berikutnya, Andre, menargetkan anak-anak tersebut bisa mengarang lagu sendiri. ”Tinggal diberi nada dan teks, jadilah sebuah lagu,” kata Andre yang menguasai alat musik gitar dan biola itu. Wakil Kepala SD Pangudi Luhur Agustinus I Nengah Suntaya menyatakan keyakinannya Andre dan Sandy bisa mengajar musik dengan baik meski mereka tidak memiliki sertifikat sebagai guru musik. Suntaya malah menargetkan murid-muridnya pentas untuk acara Natal dan kenaikan kelas. Ia mengakui bahwa kawan- kawannya sempat ragu mempercayakan kegiatan ekstrakurikuler musik pada Andre. Namun ia tetap nekat mempekerjakan Andre, apalagi setelah Andre berhasil melatih anak-anak kelas II dalam pentas kenaikan kelas tahun lalu, meski persiapannya hanya satu minggu. ”Kadang-kadang seseorang yang kurang dalam pelajaran sekolah, punya kelebihan tertentu. Dalam kurikulum berbasis kompetensi, keahlian seseorang sangat dihargai,” kata Suntaya.

Gilang Ratsmawan (10), murid kelas VI yang bergabung dalam kelas ekstrakurikuler musik, mengaku senang dengan kehadiran Andre. Gilang pernah ikut les piano dan biola dan berhenti di tengah jalan karena bosan. Menurut dia, cara mengajar Andre lebih mudah diikuti dan tidak membosankan. ”Lain dengan guru-guru yang biasa,” kata Gilang. Ia tidak merasa terganggu dengan penampilan Andre yang tak lazim sebagai seorang guru.

Berkat pendidikan alternatif *

Andre dan Sandy merupakan anak yang dibesarkan dalam subkultur jalanan. Kemiskinan mengempaskan mereka dari jalur sekolah formal. Orangtua Andre adalah pemulung. Ia sempat mengikuti jejak orangtuanya, sebelum kemudian menjadi pengamen. Beruntung saat menginjak masa remaja, pada kelas II SMP, ia diajak kawannya mengikuti perkemahan anak-anak jalanan yang diselenggarakan Sanggar Akar, komunitas pendidikan alternatif untuk anak-anak pinggiran di Jakarta. Andre nyaris meninggalkan sekolahnya setelah dihajar habis-habisan oleh guru fisika karena tanpa disengaja terkena bola basket yang dilemparkan Andre. ”Sekolah tidak memberikan apa-apa,” kata Andre. Ia lalu memutuskan berhenti sekolah setelah menerima ijazah SMP. Justru sekolah alternatif yang membantu Andre menemukan dirinya. Tak hanya itu, keterampilannya bermusik semakin berkembang. Bersama lima kawannya ia masih mengikuti kelas musik seminggu tiga kali yang diasuh Arjuna Hutagalung. Kelas musik diselenggarakan malam hari, antara pukul 21.00–23.00. Dari kelas alternatif itu Andre menguasai gitar, biola, belajar menciptakan komposisi, dan meniru mengajar musik. Ia sama sekali tidak canggung ketika harus berhubungan dengan masyarakat yang memiliki kebiasaan dan norma-norma berbeda dengan subkultur jalanan di mana ia dibesarkan. Tahun lalu, Andre menjadi koordinator kegiatan ekstrakurikuler musik di tujuh sekolah di Jakarta. Ia bisa menjalankan tugas dengan baik, tanpa sekalipun absen. Bahkan ketika ia harus mengajar pada pukul 07.00 sekalipun.

Perlu komitmen *

Pendidikan untuk kaum miskin dan kelompok-kelompok masyarakat marginal secara umum memang belum serius dibicarakan, apalagi menjadi kebijakan negara. Para pengambil kebijakan pendidikan cenderung silau pada arus besar liberalisasi dan komersialisasi pendidikan, meributkan kelas internasional daripada serius memperjuangkan hak kalangan bawah untuk memperoleh pendidikan.

Pendidikan nonformal untuk masyarakat miskin, termasuk kelompok-kelompok belajar, didiskriminasikan dalam penganggaran. Orang-orang miskin yang terempas dari sekolah formal justru dianaktirikan dan memperoleh dukungan finansial yang sama dari negara, sekalipun mereka masih dalam usia wajib belajar. Pengamat pendidikan Dr Mochtar Buchori mengemukakan perlunya pendidikan untuk orang miskin yang didesain untuk mengembangkan tekad anak keluar dari belenggu kemiskinan, memahami sejarah yang membuat mereka miskin, dan mengembangkan kesadaran tentang ada cara yang baik bagi mereka untuk keluar dari kemiskinannya. Dalam kerangka berpikir seperti itu, pendidikan untuk kaum miskin yang sekadar mengajarkan teknis membaca dan menulis, bahkan dengan memberikan keterampilan kerja, sekalipun tidak mencukupi. Di situlah ironi terjadi. Penyelenggaraan pendidikan untuk orang miskin membutuhkan komitmen dan keberpihakan. Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Hak orang miskin untuk memperoleh pendidikan justru diabaikan oleh negara.

Di tengah ketidakpedulian itu, pendidikan alternatif untuk kalangan bawah bermunculan di berbagai daerah, dengan berbagai model yang ditawarkan. Mereka tidak sekadar melakukan kegiatan yang bersifat karitatif, tetapi mencoba mengembangkan model pendidikan yang tidak hanya bertujuan membebaskan anak-anak itu dari kemiskinan, tetapi juga melahirkan orang-orang yang bisa melakukan perubahan terhadap sistem yang memiskinkan. ”Kami mencoba mendidik anak-anak untuk menjadi dirinya sendiri. Kalaupun kelak mereka tetap menjadi pemulung, itu atas dasar kesadaran dan pilihannya sendiri. Bukan karena terpaksa,” kata Ibe Karyanto yang telah belasan tahun bergulat di Sanggar Akar. Ketika memberikan kebebasan anak untuk menjadi dirinya sendiri, pendidikan untuk kaum miskin tidak boleh membatasi pilihan anak. Semata-mata mengarahkan mereka agar terampil menjahit, menganyam, atau menyadap karet, misalnya. Seorang anak pemulung atau anak petani miskin tetap saja berhak untuk menjadi seorang ahli filsafat, pakar bioteknologi, atau bahkan pemimpin perlawanan. Bahruddin, Koordinator SMP Alternatif Qaryah Thayibbah di Salatiga, menolak membatasi anak didiknya untuk semata- mata jadi anak-anak petani yang terampil. Sekalipun ia mendesain pendidikannya bersahabat dengan lingkungannya, memakai sawah, sungai, empang, dan apa-apa yang tersedia di desanya sebagai sumber pembelajaran. ”Pendidikan keterampilan yang membatasi anak mengembangkan potensi keilmuannya adalah tindakan kriminal,” kata Bahruddin.

Oleh: P Bambang Wisudo

Comment :

Ini merupakan salah satu bentuk dari pendidikan luar sekolah yang saya rasa dapat membebaskan negeri ini dari kebodohan, karena selama ini pendidikan hanya berlangsung di sekolah-sekolah yang sekarang dikuasai oleh mereka yang memiliki uang. buku mahal, seragam mahal, spp mahal. dengan adanya pendidikan alternatif semacam itu kita bisa lebih banyak lagi mencerdaskan bangsa kita, terutama bagi mereka korban ketidakadilan negara. kmu harus bisa memperjuangkan nasib pendidikan semacam ini, karena selama ini pendidikan alternatif ini sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat, dan pemerintahpun cenderung menganaktirikan pendidikan yang murah ini. mereka yang bersekolah disana memiliki potensi, namun tidak memiliki pengakuan dari masyarakat. Dalam kongresmu nanti, kalo bisa angkat isu ini. cari strategi bagaimana pendidikan alternatif dapat diakui masyakat dan pemerintah, bukan hanya diakui saja tapi juga diterima dan setara dengan sekolah formal lainnya.

Categories: Artikel Pendidikan Non Formal dan Informal | Leave a comment

OSPEK

Berita yang kerap jadi pembicaraan utama tiap ajaran baru, mulai dari tingkat SMP, hingga perguruan tinggi, OSPEK!!, atau dikenal dengan PERPELONCOAN.

Gw pribadi termasuk orang yang menikmati kegiatan itu (menikmati sebagai peserta ospek, maupun sebagai “senior”), sejak SMP sudah puluhan organisasi gw ikuti demi bisa ikut proses perpeloncoannya, rekan2 pernah menganggap gw “GILA” karena doyan ama kegiatan itu….

Bahwasannya OSPEK itu merendahkan martabat manusia, tidak memiliki manfaat,–seorang teman pernah mencoba menantang membeberkan data2 relevansi antara OSPEK dengan IPK, atau gaji pada saat bekerja nanti, ah…– itu hanya masalah persepsi!!

Tapi secara manfaat, rasanya gw sependapat bahwa kegiatan OSPEK itu gak memiliki manfaat apa2 selain “fun” TITIK!!, artinya manfaat yang gw rasakan hanyalah ROMANTISME, bahkan dalam salah satu organisasi Adventurer tertua di negri ini, gw merasakan bahwasannya hal yang mengkaitkan angkatan tertua dengan angkatan termuda adalah cerita2 tentang Perpeloncoannya, cerita2 tragis, haru, lucu, konyol, pada saat “perpeloncoan” tersebut, cerita2 itu tetap “nyambung” bila diceritakan di seluruh lapisan generasi, dan hmmm hanya sebatas itu, gak ada manfaat lain yang dirasakan. Tapi setidaknya gw punya keyakinan bahwasannya klo gw bisa merasakan pengalaman “terburuk” itu merupakan hal yang berharga.

Memang siy persoalan utama yang gw rasakan pada waktu kuliah dulu adalah bahwa ospek itu berkesan “tidak suka rela” artinya tiap jurusan “mewajibkan” mahasiswa barunya mengikuti kegiatan itu dengan dalih kalau tidak ikut akan “dipersulit” atau dikucilkan oleh “habitat” pada proses akademisnya, dan cara2 itu cukup berhasil menggiring mahasiswa baru berduyun duyun menyerahkan “harga dirinya” ke lembah nista (ceileee!!).

Tidak seperti beberapa organisasi yang pernah gw ikuti, klo gw ingin bergabung maka gw tau persis apa konsekuensi yang harus gw hadapi tuk melalui proses penerimaannya (beberapa organisasi mengharuskan gw menandatangani kontrak MATI!!)

Tapi emang kadang kegiatan OSPEK suka keblinger! dan klo sudah harus dibayar dengan NYAWA ya… gw pun anggap itu sudah keterlaluan, dengan argumentasi apapun gw setuju bahwa kalau tujuannya membantai orang sampe mampus (baca:mati) OSPEK harus dilarang!!! (tapi apakah tujuan ospek itu tuk membunuh? Well, itulah sulitnya, tidak ada yang sanggup mengontrol dan menjamin seorang “senior” bisa bertindak arif, dan penuh pengendalian diri)

Kadang gw geli pada saat gw berkesempatan menjadi “panitia” dan sibuk merumuskan hal2 berbau filosofis tentang manfaat dibalik jalan jongkok, merayap, berjalan di comberan, dll,dll (sementara gw ingat pada saat gw di plonco, gw lakukan tanpa ada beban filosofis !!! , gw  ini saja, toh negara kita ini negara hukum, gak usah di larang2 lah, kaitkan saja kepada pasal KUHP yang ada (kalau emang ada)bukan hanya snikmati sebagai REKREASI !!, gw menikmati bagaimana tekanan dan pressure yang gw terima justru memacu adrenalin dan..ah.. kenikmatannya tiada tara… HIDUP OSPEK!!).

Yang gak gw mengerti, kenapa pihak yang berwenang tidak menerapkan sanksi hukum pidana misalnya terhadap setiap pelaku kegiatanekedar keputusan rektor, biarkan mereka bebas berkegiatan, di akhir kegiatan polisi tinggal menciduk mereka2 yang terlibat..

Toh klo tidak bisa dilarang ya diatur…..

Created by Rerry
cp: 085691919722
Hilangkan Militerisasi dalam dunia pendidikan
Mari kita manusiakan manusia,
karena setiap manusia memiliki potensi……..
Categories: Artikel Pendidikan Formal | Leave a comment

Teori Positivisme Logika

Teori Positivisme Logikal

Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang mengalami banyak perubahan mendasar dalam perjalanan sejarahnya. Istilah Positivisme pertama kali digunakan oleh Francis Biken seorang filosof berkebangsaan Inggris. Ia berkeyakinan bahwa tanpa adanya pra asumsi, komprehensi-komprehensi pikiran dan apriori akal tidak boleh menarik kesimpulan dengan logika murni maka dari itu harus melakukan observasi atas hukum alam.

Istilah ini kemudian juga digunakan oleh Agust Comte dan dipatok secara mutlak sebagai tahapan paling akhir sesudah tahapan-tahapan agama dan filsafat. Agust Comte berkeyakinan bahwa makrifat-makrifat manusia melewati tiga tahapan sejarah: pertama, tahapan agama dan ketuhanan, pada tahapan ini untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi hanya berpegang kepada kehendak Tuhan atau Tuhan-Tuhan; tahapan kedua, adalah tahapan filsafat, yang menjelaskan fenomena-fenomena dengan pemahaman-pemahaman metafisika seperti kausalitas, substansi dan aksiden, esensi dan eksistensi; dan adapun Positivisme sebagai tahapan ketiga, menafikan semua bentuk tafsir agama dan tinjauan filsafat serta hanya mengedepankan metode empiris dalam menyingkap fenomena-fenomena.

Pada tahun 1930 M, istilah Positivisme berubah lewat kelompok lingkaran Wina menjadi Positivisme Logikal, dengan tujuan menghidupkan kembali prinsip tradisi empiris abad ke 19. Lingkaran Wina menerima pengelompokan proposisi yang dilakukan Hume dengan analitis dan sintetis, dan berasaskan ini kebenaran proposisi-proposisi empiris dikategorikan bermakna apabila ditegaskan dengan penyaksian dan eksperimen, dan proposisi-proposisi metafisika yang tidak dapat dieksprimenkan maka dikategorikan sebagai tidak bermakna dan tidak memiliki kebenaran. Kesimpulan pandangan ini adalah agama dan filsafat (proposisi-proposisi agama dan filsafat) ambiguitas dan tidak bermakna, karena menurut kaum positivisme syarat suatu proposisi memiliki makna adalah harus bersifat analitis, yakni predikat diperoleh dari dzat subyek kemudian dipredikasikan atas subyek itu sendiri dan kebenarannya lahir dari proposisi itu sendiri serta pengingkarannya menyebabkan kontradiksi, atau mesti bersifat empiris, yakni melalui proses observasi dan pembuktian

Dengan demikian, sebagaimana ungkapan Kornop ? salah seorang anggota dari Lingkaran Wina ? dalam suatu risalah berjudul “Menolak metafisika dengan analisis logikal teologi”, kalimat-kalimat yang mengungkapkan perasaan(affective), seperti: alangkah indahnya cuaca! Atau pertanyaan, seperti: Di manakah letak kota Qum? Atau kalimat-kalimat perintah, metafisika dan agama, karena kalimat-kalimat dan proposisi-proposisi tersebut tidak melewati proses observasi dan eksprimen maka serupa dengan proposisi-proposisi yang tidak benar (bohong)

Kaum Positivisme, seiring dengan perjalanan waktu, mengubah pandangannya yang ekstrim dan perlahan-lahan tidak menegaskan kemestian pembuktian dan eksperimen dalam menguji kebenaran suatu proposisi dan bahkan eksprimen tidak lagi dijadikan tolok ukur kebenaran proposisi. Mereka menyadari bahwa jika tolok ukur kebenaran (memiliki makna) proposisi-proposisi adalah melewati proses pembuktian dan eksperimen, maka sangat banyak proposisi-proposisi empiris yang tidak akan bermakna (tidak benar), karena tidak dapat dibuktikan secara yakin (100%). Mazhab filsafat ini dalam bagian lain mengakui bahwa manusia tidak mampu menyingkap hakikat realitas ? dalam bentuk pembuktian, penegasan, dan bahkan pembatalan ? tetapi hanya sebatas pemuasan akal.

 

Kesimpulan dari semua pandangan kaum Positivisme adalah bahwa proposisi-proposisi agama yang karena tidak melewati observasi dan eksprimen maka tidak dikategorikan sebagai makrifat dan pengetahuan yang bermakna (baca: proposisi agama tidak benar) dan bahasa agama karena tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara eksprimen, maka tidak menjadi makna yang dapat diperhitungkan.

Mazhab Positivisme mendapatkan kritikan dan sanggahan yang berat dari pendukung-pendukungnya sendiri, seperti Wittgenstein dan Poper, dibawah ini akan diungkapkan sebagian dari kritikan-kritikan mereka:

Teori evolusi dan tiga tahapan dari Agust Comte sama sekali tidak memiliki bukti sejarah yang otentik dan argumen keilmuan yang akurat, landasan ketidakbenaran teori tersebut adalah karena menghubungkan tahapan-tahapan sejarah dari sistem masyarakat Eropa pada zaman itu dan kemudian menggeneralisasikan pada seluruh tahapan sejarah dunia. Di samping itu, dalam filsafat ilmu kontemporer para ilmuwan telah membahas dan mengkaji tentang kebutuhan ilmu terhadap filsafat dan pengaruh metafisika terhadap teori-teori ilmu.

Demikian pula asas Positivisme tentang tolok ukur kebenaran proposisi yang menetapkan bahwa proposisi hanya memiliki makna (kebenaran) apabila dapat dieksperimenkan dan diobservasi. Dan proposisi-proposisi yang non-empiris dikatakan tidak bermakna sebenarnya tidak berangkat dari asas analisis dan tautologi (kebenaran tampak dari dirinya sendiri) dan juga bukan berdasarkan sintetis yang dapat dibuktikan dengan penyaksian dan eksperimen.

Kaum Positivisme memandang bahwa seluruh proposisi-proposisi metafisika tidak bermakna; padahal sebagian dari proposisi tersebut bersifat analitik, seperti: setiap akibat membutuhkan sebab; sedangkan menurut mereka proposisi-proposisi analitik adalah bermakna.

Menurut mazhab ini, secara prinsipil proposisi-proposisi agama tidak sampai pada tahapan yang benar dan bohong, oleh karena itu, penegasian benar dan bohong dari pendukung mazhab ini yang dinisbahkan terhadap proposisi-proposisi agama adalah tidak bermakna.

Kritikan kita yang paling mendasar terhadap Positivisme adalah menyangkut masalah-masalah yang prinsipil dan berasas. Di samping kita mengakui kebenaran metode empiris juga memandang sah metode logikal dan rasional dalam meraih makrifat. Kita memandang benar semua metode logikal, rasional, syuhudi, naqli (teks suci) dan sejarah.

Setelah kami menampilkan dua bentuk pendekatan dan teori terhadap bahasa agama yang terdapat dalam teologi dan filsafat Kristen dan Barat, untuk tidak larut dalam pembahasan yang berkepanjangan, maka kami cukupkan pengenalan terhadapnya dengan menggunakan dua pendekatan dan teori tersebut. Kendatipun pada hakikatnya pembahasan bahasa agama yang ada pada teologi dan filsafat Kristen dan Barat ini adalah jauh lebih luas serta sangat kompleks (masih terdapat berbagai aliran dan pandangan, seperti teori analitik bahasa, teori simbolik, teori permainan bahasa (language game) dan?), bahkan boleh dikatakan bahwa hingga sekarang ini, pembahasan tersebut belum tuntas dan masih belum ditemukan pemecahannya yang akurat yang bebas dari berbagai kelemahan dan kritikan.

Adapun dalam teologi dan filsafat Islam meskipun pembahasan ini tidak begitu luas dan tidak terdapat berbagai aliran dan pandangan, akan tetapi berkat kemurnian dan keorisinalan ajaran Islam (kitab suci al-Qur’an) serta ilham dan petunjuk yang didapatkan oleh para teolog dan filosof Islam dari kitab suci tersebut sehingga menyebabkan pandangan dan pemikiran mereka dalam masalah ini mengarah pada kesatuan dan keselarasan universal (misalnya mereka berpandangan bahwa proposisi-proposisi agama adalah bermakna), walaupun masih terdapat perbedaan secara partikular, misalnya perdebatan tentang sifat-sifat Tuhan dan sifat-sifat makhluk-Nya apakah bersifat homonim atau univokal.

 

Categories: Teori | Leave a comment

Anak Jalanan

Categories: Serba Serbi | Tags: , | 1 Comment

Artikel Pendidikan Formal

Categories: Artikel Pendidikan Formal | Leave a comment

About Me

Merupakan Forum bagi aktivis sosial yang memiliki ketertarikan terhadap fenomena permasalahan masyarakat di sekitar. Khususnya masyarakat yang tertinggal dan terdintas, contoh kongkritnya adalah kaum gelandangan, anak jalanan, masyarakat buta aksara, masyarakat yang belum tuntas wajar dikdas 9 tahun, masyarakat non lifeskill. Mari kita berdiskusi, beraktivitas sosial dan berinovasi agar dapat meringankan dalam membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat tersebut.

Categories: Serba Serbi | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.